Ir. Djoko Rahardjo, MP selaku Rektor Universitas Kadiri memberikan sambutan dalam pembukaan acara Seminar Internasional dengan tema “International Collaboration For Support Independent Campus” pada Rabu, 24 Juni 2020.

[UNIK,Rab,24/06/2020] – Dalam menyikapi adanya kebijakan terkait kampus merdeka, tepat di tanggal 24 Juni 2020, Universitas Kadiri mengadakan Seminar Internasional Online dengan tema “International Collaboration For Support Independent Campus.” Mengangkat tema “Kolaborasi Internasional untuk mendukung kampus merdeka”, Universitas Kadiri menghadirkan lima pembicara yakni :

  1. Dr. Methiana Indrasari ,ST.,MM (Wakil Rektor IV Universitas Dr. Soetomo Surabaya)
  2. Dr. Hajah Zainab HJ. Mohd Noor (Director for the Office of International Affairs at UITM Malaysia)
  3. Dr. Tubagus Achmad Darodjat (Rajamanggala University of Technology, Bangkok)
  4. Rahul Bhandari (Director International Relation & Outreach, SPECS,United Kingdom Director – O.P. Jindal Global University, India), dan
  5. Pamadya Vitasmoro, M.Pd selaku Kepala Bagian Kerjasama International Universitas Kadiri.
Rahul Bhandari (Director International Relation & Outreach, SPECS,United Kingdom Director – O.P. Jindal Global University, India) menyampaikan materinya dalam “International Collaboration For Support Independent Campus.”

Dalam kesempatan yang sama, ketika ditemui Ir. Djoko Rahardjo,MP selaku Rektor Universitas Kadiri menyampaikan “Seperti yang kita ketahui bersama bahwa baru-baru ini Mendikbud meluncurkan kebijakan kampus merdeka bagi perguruan tinggi.  Dengan adanya kebijakan tersebut, maka dengan ini Universitas Kadiri bekerja sama dengan Universitas Dr. Soetomo Surabaya, UITM Malaisya, Rajamanggala University of Technology Bangkok dan juga Jindal Global University India mengadakan seminar internasional dengan pembahasan kampus merdeka.” Ungkap Ir. Djoko Rahardjo, MP.

Pamadya Vitasmoro, M.Pd selaku pemateri menyampaikan bahwasannya kampus merdeka mengusung empat kebijakan di lingkup perguruan tinggi, yakni :

  1. Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi, yaitu dalam program Kampus Merdeka, program re-akreditasi bersifat otomatis untuk seluruh peringkat dan bersifat sukarela bagi perguruan tinggi dan prodi yang sudah siap naik peringkat. Akreditasi yang sudah ditetapkan oleh BAN-PT tetap berlaku selama 5 tahun namun akan diperbarui secara otomatis.
  • Hak belajar tiga semester di luar prodi, yaitu kampus merdeka memberikan hak kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar prodi dan melakukan perubahan definisi Satuan Kredit Semester (SKS).
  • Pembukaan prodi baru, yaitu  pada program Kampus Merdeka memberikan otonomi pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ataupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk melakukan pembukaan atau pendirian program studi (prodi) baru. Namun otonomi diberikan jika PTN dan PTS tersebut telah memiliki akreditasi A dan B, serta telah melakukan kerjasama dengan organisasi dan/atau Universitas yang masuk dalam QS Top 100 World Universities. Dan, pengecualian berlaku untuk prodi kesehatan dan pendidikan.
  • Kemudahan menjadi PTN – BH, yaitu kebijakan Kampus Merdeka yang keempat terkait kebebasan bagi PTN Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja (Satker) untuk menjadi PTN badan Hukum (PTN BH).

Selain itu Rahul Bhandari juga menambahkan alasan mengapa pentingnya perguruan tinggi berkolaborasi secara international untuk mendukung adanya kebijakan kampus merdeka yaitu adanya manfaat yang akan didapatkan oleh mahasiswa tidak hanya berupa kemampuan memahami perbedaan budaya, namun juga kemampuan untuk belajar dan juga bekerja dalam kapasitas internasional. Sementara manfaat yang akan didapatkan oleh pihak fakultas dan staff yaitu adanya pertukaran dosen dan staff, serta proyek penelitian internasional serta adanya peluang mengajar di negara asing.

Post by Humas Universitas Kadiri