JAKARTA — Pembangunan karakter (character building) di dunia kampus, terutama di perguruan tinggi (PT), dilatarbelakangi oleh maraknya penyimpangan yang terjadi di ranah publik. Disorientasi nilai maupun disharmonisasi pada tataran kehidupan masyarakat kerap ditemukan. Selain itu, di tataran elite, ragam tindakan nirketeladanan dipertontonkan seperti perilaku koruptif.

Dari perspektif sosial, budaya malu perlahan-lahan mulai hilang. Belum lagi sikap tak menghargai orang lain hingga timbulnya kekerasan di tengah kehidupan masyarakat.  Dalam konteks kemahasiswaan, semua pemangku kebijakan terkait dihadapkan pada persoalan untuk mengembalikan nilai-nilai luhur kepada setiap mahasiswa.

“Oleh karena itu, pembangunan karakter ingin mengembalikan paradigma berpikir.  Agar mahasiswa itu tidak hanya pintar, berpengetahuan, dan unggul, tetapi juga bertanggung jawab dan beretika,” ujar Deputi Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPSOS) Universitas Nasional (UNAS), Firdaus Syam. Menurut Firdaus, tantangan ini harus mampu dijawab oleh pihak kampus manapun. Pasalnya, sistem pendidikan yang ada sekarang dinilai tidak cukup untuk menjawab persoalan mendasar bangsa yang terkait dengan pembangunan karakter.

Rektor Universitas Nasional (UNAS) Jakarta El Amry Bermawi Putera menambahkan bahwa PT harus berkomitmen dalam mencetak lulusan yang berkarakter dan berintegritas agar mampu berkiprah dan bersaing di level global. Dengan pendidikan pembangunan karakter, diharapkan setiap lulusan kelak lebih memiliki sikap empati. Sikap empati, menurut El Amry, merupakan salah satu kualitas karakter yang dapat mengubah dunia dunia.

“Karena ketika seseorang memiliki empati, dia akan memiliki kepedulian terhadap tingkah laku yang diperbuat dan bagaimana memperlakukan orang lain,” kata El Amry.  Direktur Pendidikan Karakter dan Education Consulting Doni Koesoema menyarankan agar pendidikan karakter di kampus mengarah pada pembentukan individu mahasiswa yang memiliki integritas moral. Semua itu harus didukung budaya dan kebijakan kampus.

“Nilai-nilai moral dalam keseharian mahasiswa harus mampu diaktualisasikan,” ujar Doni. Dia mencontohkan aturan yang dimaksud. Misalnya, menegakkan integritas pada hal-hal yang berhubungan dengan plagiat dan vandalisme buku ajar.

Di samping itu, kampus juga dapat membuat kebijakan antidiskriminasi. Seperti, memberi akses pada penyandang disabilitas untuk dapat menikmati pendidikan. Lebih lanjut, Doni mengatakan bahwa kemampuan berpikir kritis di kalangan mahasiswa harus dikembangkan. Tujuannya agar mahasiswa mampu memahami nilai-nilai secara objektif.  Dalam hal ini kampus menentukan prioritas nilai yang ingin dikembangkan. Kemudian, seluruh sivitas akademika, termasuk dosen dan karyawan, memahaminya sebagai hal penting untuk diperjuangkan.

Karena itu, Doni mengungkapkan, pendidikan karakter tidak sekadar pelatihan kilat dalam bentuk outbond maupun aktivitas-aktivitas serupa. “Tetapi, lebih pada melatih mahasiswa melaksanakan nilai-nilai moral sebagai akademisi dan calon pemimpin bangsa,” kata Doni yang juga dikenal sebagai pakar pendidikan.

Pelatihan Pembangunan Karakter
Sejumlah kampus terus melakukan berbagai upaya untuk membangun karakter sivitas akademika. Salah satu bentuk ikhtiar yang dilakukan Universitas Nasional (UNAS), yaitu pelatihan yang diselenggarakan pada 27 sampai 29 Januari 2015. Menurut Deputi Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPSOS) UNAS, Firdaus Syam, pelatihan itu bersifat berkelanjutan.

Peserta tidak hanya mahasiswa, tetapi juga dosen dan karyawan di lingkungan kampus.  Bahkan, orang tua mahasiswa pun berencana diundang dalam kesempatan-kesempatan selanjutnya. Pelatihan pembangunan karakter meliputi pemberian materi mengenai kepemimpinan, organisasi atau manajemen, keterampilan yang berkaitan dengan pengembangan minat dan bakat atau interpersonal skill, serta budaya akademik.

Di samping itu, mahasiswa juga dibekali pengetahuan mengenai kemampuan menggunakan media teknologi informasi berbasis karakter. Misalnya dalam membangun komunikasi yang berkaitan dengan media sosial. Tidak hanya itu, materi mengenai kewirausahaan juga diberikan mengingat kaitannya dengan kemandirian sebagai bagian dari karakter.

Firdaus menyebut upaya pembangunan karakter yang dilakukan UNAS bertujuan membangun atmosfer kehidupan kampus dalam persepsi yang sama. “Atmosfer kampus yang dimaksud, yakni yang lebih mengedepankan kompetisi, kejujuran, profesionalisme, dan kepemimpinan yang berbasis ilmu dan karakter yang baik,” ujar Firdaus. Pengajar Pascasarjana UNAS ini menambahkan, pembangunan karakter akan dimasukkan ke bagian mata ajar perkuliahan. Namun, hal itu tidak berdiri sendiri, tetapi dimasukkan sebagai muatan dalam SAP atau rencana perkuliahan pada setiap mata kuliah.

Selain itu, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memiliki pendidikan pembangunan karakter dalam bentuk kegiatan formal dan informal. Contohnya, kegiatan spiritualitas emotional spiritual quotient (ESQ).

Di samping itu, mahasiswa dididik dalam pembentukan karakter melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan kegiatan Badan Eksekutif Mahasiwa atau kegiatan organisasi unit kegiatan mahasiswa (UKM). Namun demikian, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan UNY Suwarsih Madya menuturkan bahwa penyimpangan moral tidak hanya dapat diatasi oleh lembaga pendidikan.

Lembaga negara, termasuk eksekutif, legislative, dan yudikatif, turut berperan dalam konteks tersebut. “Perguruan tinggi menekankan penalaran karakter sampai pada pengamalannya,” kata Suwarsih. Akan tetapi, pakar pendidikan UNY tersebut melanjutkan, yang mengamalkan harus sadar betul akan nilai yang harus diterapkan dalam kehidupan sesuai dengan profesi yang dijalani.

Sumber :
http://www.republika.co.id/berita/koran/urbana/15/03/20/nli0t327-pentingnya-pembangunan-karakter-di-perguruan-tinggi